Pelaksanaan aqiqah dalam Islam memiliki tata cara yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Hal ini penting untuk diperhatikan agar ibadah tidak sekadar dilakukan, tetapi juga sesuai dengan tuntunan syariat. Tahapan yang paling utama adalah penyembelihan hewan, yaitu dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Hewan yang dipilih pun harus sehat, tidak cacat, dan memenuhi syarat sebagaimana hewan kurban.
Setelah hewan disembelih, dagingnya sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Inilah yang membedakan aqiqah dengan kurban. Jika kurban lebih dianjurkan membagikan daging dalam keadaan mentah, maka aqiqah lebih utama dibagikan dalam bentuk hidangan siap saji. Dengan cara ini, penerima daging bisa langsung menikmati tanpa repot mengolahnya. Praktik ini juga menambah nilai kebersamaan karena seringkali keluarga mengundang kerabat dan tetangga untuk makan bersama.
Selain penyembelihan, aqiqah juga disertai dengan amalan lain seperti mencukur rambut bayi. Rambut yang dicukur biasanya ditimbang dan nilainya diganti dengan sedekah berupa perak atau emas. Hal ini melambangkan kesucian dan harapan agar anak tumbuh dengan fitrah yang bersih. Pemberian nama juga dilakukan dalam rangkaian aqiqah, dengan memilih nama yang baik sebagai doa dan identitas sepanjang hidup anak.
Dengan mengikuti tata cara aqiqah sesuai sunnah, ibadah ini menjadi lebih bermakna. Tidak hanya memenuhi syariat, tetapi juga sarat dengan nilai pendidikan, sosial, dan spiritual yang akan dikenang seumur hidup oleh keluarga dan anak yang diaqiqahkan.
